Mahasiswa Ilmu Politik UNY Sosialisasikan Kesetaraan Gender kepada Pelajar SMAK Sang Timur Yogyakarta

Yogyakarta — Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik  Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar kegiatan sosialisasi bertema "Gender Equality: Hobi dan Karir" di SMA Katolik Sang Timur Yogyakarta pada Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan ini menyasar siswa-siswi kelas X dan XI sebagai upaya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 5 tentang Kesetaraan Gender sejak dini.

Sosialisasi dihadiri oleh puluhan siswa kelas X dan XI SMAK Sang Timur Yogyakarta. Mahasiswa Ilmu Politik UNY tampil sebagai pemateri utama, membawa materi yang menyentuh isu nyata yang kerap dihadapi remaja, yaitu bagaimana stereotip gender memengaruhi pilihan hobi dan karir mereka.

Materi yang disampaikan mencakup beberapa topik pokok. Pemateri membuka dengan konsep dasar kesetaraan gender yang berpijak pada UUD 1945 Pasal 27 Ayat (1), yang menegaskan bahwa seluruh warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum tanpa terkecuali.

Dari sana, diskusi bergerak ke isu yang lebih dekat dengan keseharian peserta, yakni bagaimana stereotip gender terbentuk dan mengapa remaja SMA sangat rentan terhadapnya. Pemateri menjelaskan bahwa tekanan dari teman sebaya, ekspektasi keluarga, serta konten media sosial menjadi faktor utama yang membentuk persepsi keliru tentang gender di usia muda.

Peserta juga diajak memahami dampak nyata dari stereotip gender, mulai dari tekanan mental, ketidakpuasan dalam karir, hingga turunnya produktivitas jangka panjang. Untuk membantu siswa keluar dari pola pikir tersebut, pemateri memperkenalkan kerangka eksplorasi diri bernama COBA: Cek Diri Sendiri, Observasi Dunia Luas, Berani Coba, dan Ambil Keputusan.

Kegiatan berjalan interaktif dan memantik diskusi yang hidup. Salah satu momen paling berkesan datang ketika seorang siswa mengangkat profesi montir sebagai contoh nyata. Ia menyuarakan bahwa pekerjaan tersebut selama ini terlanjur diasosiasikan hanya dengan laki-laki, padahal tidak ada dasar yang melarang perempuan untuk menekuni bidang itu. Menurutnya, yang seharusnya menjadi tolok ukur adalah minat, ketekunan, dan kompetensi, bukan gender.

Pendapat tersebut memicu respons aktif dari peserta lain dan membuka diskusi yang produktif tentang bagaimana stereotip sosial telah membentuk persepsi yang keliru terhadap profesi-profesi tertentu.

Sesi games interaktif yang dirancang untuk memperkuat pemahaman materi turut menyukseskan jalannya acara. Peserta terlibat aktif dan antusias, menunjukkan bahwa pendekatan yang kreatif terbukti efektif menjangkau remaja SMA.

Secara keseluruhan, kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa Ilmu Politik UNY dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 5 tentang Kesetaraan Gender. Sosialisasi di lingkungan sekolah dinilai sebagai langkah strategis dalam membangun budaya inklusif dari tingkat akar rumput.

Pemahaman yang ditanamkan kepada siswa-siswi SMAK Sang Timur Yogyakarta diharapkan menjadi bekal dalam mengambil keputusan karir berdasarkan minat dan kemampuan pribadi, bukan atas dasar tekanan atau stereotip sosial yang berkembang di masyarakat.